Jakarta, 30 April 2026 – Transformasi customer experience (CX) tidak lagi berhenti pada kecepatan respons atau sekadar adopsi teknologi baru. Diskusi dalam acara “CX Leader’s Dinner: Achieving Maximum SLA & ROI Through Smarter Conversation” menunjukkan bahwa tantangan utama hari ini adalah bagaimana mengelola percakapan pelanggan secara lebih cerdas dengan menggabungkan AI, human touch, dan insight berbasis data untuk menghasilkan efisiensi sekaligus perkembangan revenue.
Menghadirkan praktisi lintas industri seperti Andri Priambodo (VP Contact Center & Digital Service, Bank MAS), Maesa (SMB Sales Assistant Manager, MiiTel), dan Windyani Bahar (Enterprise Solutions Consultant, TapTalk), acara yang dibawakan oleh Risca Amelliya (CRM Assistant Manager, Kasoem Group) ini membuka perspektif bahwa contact center kini telah berevolusi dari cost center menjadi strategic growth engine.
Dari Operasional Manual ke AI-Driven Efficiency

Perjalanan contact center dalam satu dekade terakhir mengalami lompatan besar. Andri Priambodo menggambarkan transformasi tersebut dari pengalaman pribadinya, mulai dari era tanpa sistem ticketing dan bergantung pada Excel, hingga masuk ke fase omnichannel dan kini AI.
Perubahan tersebut tidak hanya berdampak pada tools, tetapi juga struktur operasional. Jika sebelumnya satu organisasi harus mengelola ratusan agent untuk menangani volume interaksi pelanggan, kini jumlah tersebut dapat ditekan secara signifikan dengan bantuan automation. AI mengambil alih lapisan awal interaksi, sehingga agent hanya menangani kasus yang lebih kompleks atau bernilai tinggi.
Namun, Andri menekankan bahwa implementasi AI bukan sekadar “plug and play”. Tanpa desain use case yang tepat, AI justru bisa menambah friction dalam proses layanan, bukan menguranginya. Oleh karena itu, transformasi ini harus dipandang sebagai proses strategis, bukan sekadar adopsi teknologi.
Key takeaway: AI mampu meningkatkan efisiensi contact center secara signifikan, tetapi dampaknya sangat ditentukan oleh kualitas implementasi dan kejelasan use case.
Hybrid Experience: Menjaga Trust di Tengah Otomasi
Dalam industri perbankan, tantangan utama bukan hanya efisiensi, tetapi juga trust. Interaksi pelanggan sering melibatkan data sensitif dan keputusan finansial, sehingga tidak semua proses bisa sepenuhnya diserahkan ke mesin.
Di sinilah muncul pendekatan hybrid interaction (AI + human). AI digunakan untuk mempercepat respons, mengelola inquiry sederhana, dan memberikan insight berbasis data. Sementara itu, human agent tetap berperan dalam menangani kasus yang membutuhkan empati, judgment, dan pemahaman konteks bisnis.
Perubahan ini juga mengatasi problem klasik seperti navigasi IVR (Interactive Voice Response) yang panjang dan membingungkan. Dengan dukungan AI, perusahaan kini bisa memahami pola kebutuhan pelanggan secara lebih cepat dan menyederhanakan journey mereka. Hasilnya, pengalaman pelanggan menjadi lebih seamless tanpa kehilangan sentuhan personal.
Key takeaway: Model hybrid menjadi standar baru CX+AI menghadirkan kecepatan dan efisiensi, sementara human menjaga kepercayaan dan kualitas interaksi.
Compliance, Security, dan Pemilihan Use Case yang Tepat
Salah satu insight penting dari industri perbankan adalah bahwa tidak semua proses boleh diotomasi. Tingkat sensitivitas layanan menjadi faktor penentu utama.
Bank MAS, misalnya, menerapkan pendekatan berbasis use case:
- Masalah umum seperti login atau lupa password → ditangani AI untuk kecepatan
- Informasi pribadi dan transaksi sensitif → dialihkan ke human agent
- Self-service → didukung voicebot dengan opsi eskalasi
Dengan strategi ini, efisiensi agent meningkat hingga 50–70%, tanpa mengorbankan keamanan dan compliance. Selain itu, AI juga membantu mempercepat proses verifikasi dan pencarian data yang sebelumnya memakan waktu cukup lama.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kunci transformasi bukan pada seberapa banyak proses yang diotomasi, tetapi seberapa tepat proses tersebut dipilih untuk diotomasi.
Key takeaway: Optimalisasi CX tidak datang dari otomasi menyeluruh, melainkan dari pemetaan use case yang cermat antara AI dan human.
Dari Quality Assurance ke Insight Real-Time
AI tidak hanya berdampak di layer operasional, tetapi juga pada bagaimana perusahaan memahami kualitas layanan mereka. Salah satu area yang mengalami transformasi besar adalah quality assurance (QA).
Sebelumnya, proses QA bersifat manual dan memakan waktu mulai dari mendengarkan rekaman hingga memberikan penilaian. Kini, dengan dukungan speech analytics, proses tersebut dapat dilakukan secara otomatis dan real-time.
Organisasi dapat langsung mengetahui:
- Sentimen pelanggan dalam percakapan
- Kualitas komunikasi agent
- Kesalahan penyampaian atau penggunaan jargon
- Area perbaikan yang perlu ditindaklanjuti
Dengan insight ini, perbaikan tidak lagi bersifat reaktif, tetapi proaktif dan berkelanjutan. Bahkan, AI dapat memberikan alert langsung ketika terjadi potensi kesalahan dalam interaksi.
Key takeaway: Speech analytics menggeser QA dari proses manual menjadi sistem insight real-time yang mendorong continuous improvement.
Mengubah Contact Center Menjadi Revenue Driver
Diskusi juga menyoroti perubahan paradigma dalam mengukur ROI contact center. Jika sebelumnya fokus utama ada pada efisiensi biaya, kini organisasi mulai melihat peluang revenue dari interaksi pelanggan.
Dengan AI yang menangani inquiry repetitif, kapasitas agent menjadi lebih longgar. Hal ini membuka peluang untuk mengalihkan fokus mereka ke aktivitas bernilai tambah seperti upselling dan cross-selling. Pada saat yang sama, kecepatan respons yang meningkat juga berdampak langsung pada kepuasan pelanggan.
Menariknya, dalam banyak kasus, pelanggan lebih menghargai speed of response dibandingkan akurasi yang sempurna namun lambat. Hal inilah yang membuat AI menjadi enabler penting dalam meningkatkan pengalaman sekaligus performa bisnis.
Key takeaway: ROI contact center modern berasal dari kombinasi efisiensi operasional dan kemampuan menciptakan peluang revenue baru.
Voice Analytics: Dari Data Menjadi Direction

Dari perspektif MiiTel, Maesa menyoroti bahwa tantangan utama bukan kekurangan data, melainkan kurangnya visibility terhadap percakapan pelanggan. Banyak organisasi memiliki ribuan rekaman call, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang terjadi di dalamnya.
Hal ini terlihat dari masih tingginya repeat call yang mengindikasikan bahwa masalah pelanggan belum terselesaikan di interaksi pertama. Tanpa insight yang jelas, organisasi cenderung hanya menambah agent atau tools, tanpa menyelesaikan akar masalah.
Melalui MiiTel, Maesa menjelaskan pendekatan voice intelligence yang tidak hanya mengubah voice ke text, tetapi juga menganalisis berbagai elemen percakapan seperti intonasi, kecepatan bicara, jeda, hingga sentimen pelanggan. Data ini kemudian diolah menjadi insight yang actionable.
Dengan fitur seperti call tagging, heatmap, dan performa agent visualization, organisasi bisa memahami pola percakapan secara lebih menyeluruh dan mengambil keputusan berbasis data.
Key takeaway: Insight dari percakapan customer adalah kunci. Tanpa visibility, data hanya menjadi noise yang tidak menghasilkan arah yang jelas.
AI Coaching: Meningkatkan Kapabilitas Human Agent
Melanjutkan hal tersebut, Maesa juga menjelaskan bagaimana MiiTel memposisikan AI sebagai coach bagi agent, bukan pengganti mereka. Dengan analisis percakapan yang mendalam, sistem dapat memberikan feedback spesifik tentang:
- Cara berbicara
- Tempo komunikasi
- Efektivitas penyampaian solusi
- Area perbaikan individu
Pendekatan ini membantu organisasi membangun agent yang lebih adaptif dan berkualitas tinggi. Pada akhirnya, kualitas interaksi manusia tetap menjadi pembeda utama dalam pengalaman pelanggan.
Key takeaway: AI terbaik bukan yang menggantikan manusia, tetapi yang meningkatkan kualitas manusia dalam setiap interaksi.
Mengatasi Fragmentasi Omnichannel dengan AI

Dari sisi TapTalk, Windyani Bahar mengangkat tantangan terbesar dalam CX modern: fragmentasi channel komunikasi. Banyak organisasi masih mengelola WhatsApp, email, call center, dan media sosial secara terpisah, sehingga tidak ada visibilitas menyeluruh terhadap customer journey.
Akibatnya, pelanggan harus mengulang cerita yang sama di setiap channel, sementara agent tidak memiliki konteks yang cukup untuk membantu secara efektif. Hal ini menciptakan frustrasi, baik di sisi pelanggan maupun internal tim.
Windyani menjelaskan bahwa TapTalk menghadirkan solusi dengan menjadikan AI sebagai central orchestrator, yang:
- Menjadi titik masuk utama interaksi
- Memahami konteks pelanggan
- Mengarahkan eskalasi ke agent yang tepat
Dengan pendekatan ini, pengalaman pelanggan menjadi lebih konsisten dan seamless, bahkan ketika berpindah channel.
Key takeaway: Integrasi omnichannel bukan sekadar menyatukan channel, tetapi memastikan konteks pelanggan tetap utuh di setiap titik interaksi.
Dari Conversation ke Conversion
Lebih jauh, Windyani menekankan bahwa setiap percakapan adalah peluang konversi. Dengan AI yang mampu memahami intent pelanggan sejak awal, interaksi tidak hanya berhenti pada penyelesaian masalah, tetapi dapat diarahkan ke keputusan pembelian.
Dalam berbagai studi kasus yang dibagikan, otomasi mampu menangani hingga 80–90% inquiry berulang, sekaligus meningkatkan kecepatan respons hingga 5 kali lipat. Dampaknya tidak hanya pada efisiensi operasional, tetapi juga pada peningkatan conversion rate.
Dengan demikian, contact center tidak lagi sekadar fungsi support, tetapi menjadi bagian integral dari strategi penjualan melalui pendekatan conversational.
Key takeaway: Masa depan contact center adalah conversational commerce yang mengubah setiap interaksi menjadi peluang bisnis.
Penutup
Diskusi dalam CX Leader’s Dinner memperjelas bahwa transformasi CX tidak lagi tentang adopsi AI semata, tetapi bagaimana mengintegrasikannya secara strategis dalam keseluruhan operasi.
Kombinasi hybrid interaction, insight-driven decision making, dan fokus pada outcome (SLA & ROI) menjadi fondasi utama bagi organisasi yang ingin tetap relevan di era customer-centric.
Key takeaway: Keunggulan kompetitif di era CX ditentukan oleh kemampuan mengelola percakapan pelanggan secara cerdas, terintegrasi, dan berdampak nyata pada bisnis.
Ditulis oleh: M. Risal Abdilah, Head of Commercial and Client Solutions – IMR.



